Teknologi dan Industri Media: Radio dan Rekaman Audio
RADIO
Radio mendapat
julukan sebagai kekuasaan kelima atau the fifth estate, setelah pers (surat
kabar) dianggap sebagai kekuasaan keempat atau the fourth estate. Radio adalah
alat komunikasi yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik seba -ai pembawa pesan
yang dipancarkan melalui udara dengan kecepatan yang menyamai kecepatan cahaya.
Proses penyampaian pesan itu memerlukan dua sarana utama, yakni sebuah pengirim
pesan yang lazim disebut pemancar radio dan sebuah penerima pesan yang
dinamakan penerima radio. Pemancar radio pada dasamya adalah alat pembangkit
getaran listrik dengan frekuensi sangat tinggi, yang secara teknis disebut
frekuensi radio (radio fiequency, disingkat RF), sehingga energinya yang
Tersalur melalui antena terlempar ke segala arah sebagai, gelombang
elektromagnetik. Sebelum disalurkan kel antena, getaran listrik yang dihasilkan
itu "disuntik" dengan ge taran listrik yang lain berupa informasi
sehingga yang dipancarkan melalui antena merupakan gelombang elektromagnetik yang
sudah mengandung informasi. Penyuntikan informasi, yang biasanya disebut
frekuensi audio (audio frequency, disingkat RF), ke dalam gelombang pembawa itu
disebut proses modulasi. Informasi ini dapat berupa suara musik, orang
bemyanyi, gamhar, kode morse, data komputer, dan lain-lain. Getaran listrik
yang berupa informasi itu seolah-olah digendong oleh gelombang pembawanya dan
dibawa melanglang buana ke segala arah untuk diterima oleh ribuan atau jutaan
pesawat, atau oleh alat penerima radio yang sedang berada pada frekuensi
pemerintah yang sama dengan frekuensi gelombang Pembwa tadi. Energi listrik
berupa gelombang radio itu sebagian kecil diterima oleh antena sebuah pesawat
penerima yang sedang disetel. Bagian tertentu pada pesawat penerima, yang
disebut detektor, memisahkan informasi dari gelombang pembawanya. Proses ini
disebut demodulasi, sebagai kebalikan dari proses modulasi pada pesawat
pemancar. Informasi yang sudah dipisahkan itu masih berupa getaran listrik. dan
pesawat penerima masih harus memproses lebih lanjut agar dapat diikuti oleh
panca indera manusia. Jika informasi itu berupa suara, alat monitornya adalah
sebuah pengeras suara. Apabila informasi itu berupa gambar, tentu saja alat
monitornya adalah layar video seperti yang terpasang di pesawat televisi. (http://repository.uinsu.ac.id/1803/1/Diktat%20Abd.%20Karim%20%20BB.pdf
; 6.1 )
Salah satu kelebihan
media radio dibanding dengan media lainnya, ialah cepat dan mudah dibawa kemana
mana. Radio bisa dinikmati sambil mengerjakan pekerjaan lain, seperti memasak,
menulis,menjahit, dan semacamnya. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada
media lain seperti TV, Film, dan surat kabar. Kehadiran media TV ternyata tidak
mampu menggeser pengemar radio. Hasil penelitian membuktikan bahwa para remaja
di Amerika Serikat rata – rata lebih banyak waktunya untuk mendengar radio
dibanding dengan menonton TV. ini dibuktikan dengan makin banyaknya stasiun
radio yang didirikan di Amerika,disamping pertumbuhan stasiun TV. Indonesia,
radio pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah belanda pada tahun 1920. Ketika
pecah revolusi fisik, radio memegang peranan penting dalam mengobarkan semangat
perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Tahun 1994 diperkirakan sudah ada
34 juta pesawat radio di indonesia yang dilayani oleh 49 stasiun radio
pemerintah (RRI), 670 stasiun radio swasta niaga dan 133 stasiun radio
pemerintah daerah, atau secara total 852 buah. Padahal pada tahun 1975 baru
terdapat 512 buah stasiun radio. Ini pertanda radio siaran teap mempunyai
tempat dihati masyarakat indonesia.
Mengenai siaran radio luar negri,
banyak pendengar senang mengikutinya, karena selain disiarkan dalam berbaga
bahasa juga berita dan komentarnya menarik, cepat dalam peyajian berita dan
tidak kena sensor. Karena itu dalam hal – hal tertentu, siaran radio luar negri
lebih disenangi daripada radio dalam negri.
Seperti halnya dengan media
televisi, radio pemerintah lebih banyak menyiarkan kegiatan – kegiatan pembangunan,
radio swasta niaga umumnya memiliki program siaran untuk kepentingan
pemerintahan dan masyarakat setempat. ( prof.Dr.H.Hafied Cangara,Msc;2006;
124-125)
adio sebagai media massa komunikasi
elektronik tentunya ada beberapa kekuatan yang di miliki oleh radio itu sendiri
diantaranya : Pertama, menjaga mobilitas. Radio tetap berusaha agar mobilitas
pendengar tetap tinggi. Dia dapat didengar tanpa harus menghentikan aktivitas,
misalnya sambil mengemudikan kendaraan, belajar, bekerja, dan sebagainya.
Keberadaan radio dalam setiap kesempatan dirasakan tidak menganggu. Kedua,
informasi tercepat. Ada yang menyebut radio dengan Radio is the Now media.
Pengertian now di sini adalah kesegarannya. Dibandingkan dengan media cetak dan
televisi, selain lebih cepat dalam proses penayangan informasi dan lebih murah
dalam proses operasionalnya, radio dimungkinkan untuk menyebarkan informasi
seketika. Ketiga, auditif. Meskipun hanya memproduksi suara bukan visual
seperti media cetak atau visual bergerak seperti televisi, namun radio tetap
dianggap memiliki keunggulan. Alasannya, proses operasional relatif lebih
mudah, biaya operasionalnya murah, selain itu komunikasi dengan suara mempunyai
kelebihan dalam pendekatan kepada pendengar. Keempat, menciptakan theatre of
mind. Produksi radio yang hanya berupa suara tanpa gambar, justru mampu
menciptakan ‘imajinasi’ yang sering menggoda penasaran pendengar. Semisal,
ketika mendengar suara penyiar ataupun penceramah, di benak pendengar akan
muncul imajinasi tentang sosok sang penyiar sesuai dengan batasan fantasinya
dengan mengolah karakter suara penyiar tersebut. Kekuatan imajinasi sering juga
diistilahkan dengan theatre of mind. Kelima, komunikasi personal. Sifat radio
dengan komunikasi personalnya sangat menguntungkan untuk menciptakan keakraban
antara radio dengan pendengar sehingga ikatan kebutuhan dan saling
menguntungkan menjadi kuat. Keenam, murah. Tidak disangkal bahwa dalam beberapa
hal radio merupakan media komunikasi massa yang murah jika dibandingkan dengan
media cetak dan televisi. Murah, karena pendengar pada umumnya tidak perlu
membayar untuk mendengarkan radio. Beda dengan media cetak yang harus dibeli (Wahyudi:
1992).
Radio
sebagai media massa elektronik tentunya lebih memudahkan sarana informasi. Di
sinilah urgensinya teknologi informasi dapat digunakan untuk berbagai
keperluan, termasuk dapat digunakan sebagai penyampai pesan-pesan ajaran Islam.
Selain radio juga dapat digunakan sebagai media yang dapat menyapa ke semua
lapisan masyarakat. Radio memiliki jangkauan yang cukup luas, terlebih bila
menggunakan teknologi streaming, Sehingga informasi juga dapat menyentuh ke
semua khalayak umum seluruh dunia. Radio juga mampu memberikan manfaat yang
sangat luas. Keunggulannya mencapai efisiensi ruang, sehingga mampu
menghasilkan informasi dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu media radio
sangat praktis dan efisian untuk suatu sarana media massa yang bersifat
informasi dan ini merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.
DAFTAR
PUSAKA
Buku :
·
Pengantar Ilmu Komunikasi : Prof.Dr.H.Hafied
Cangara,MSc. Tahun 2006
·
J.B Wahyudi, 1992, Teknologi Informasi dan
Produksi Cutra Bergerak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Jurnal/web/ebook :
Komentar
Posting Komentar